Jakarta, 27 Februari 2026 Menjelang akhir pekan, pasar keuangan domestik menunjukkan pergerakan yang relatif stabil. Nilai tukar rupiah mencatat penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat, sementara suku bunga acuan tetap dipertahankan. Di sisi lain, tekanan inflasi masih berada dalam rentang sasaran, meskipun posisinya mendekati batas atas target.
Rupiah Menguat Terbatas
Bank Indonesia melaporkan nilai tukar rupiah berdasarkan kurs JISDOR pada 26 Februari 2026 berada di level Rp16.758 per dolar AS. Angka tersebut menguat dibandingkan posisi 25 Februari 2026 yang sempat berada di Rp16.813 per dolar AS.
Penguatan ini memang belum signifikan, namun cukup memberikan sentimen positif di tengah tekanan global terhadap mata uang negara berkembang. Secara akumulatif sejak awal tahun, rupiah masih menghadapi tekanan seiring menguatnya dolar AS di pasar internasional.
Suku Bunga Pasar Uang Bergerak Tipis
Di pasar uang, suku bunga acuan harian antarbank yang tercermin dalam INDONIA tercatat sebesar 4,16545 persen pada 26 Februari 2026. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan hari sebelumnya.
Kendati demikian, level tersebut masih berada di bawah BI Rate, yang mengindikasikan likuiditas perbankan relatif memadai meskipun terdapat sedikit pengetatan di pasar uang jangka pendek.
BI Tetap Tahan Suku Bunga
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19 Februari 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen. Kebijakan ini mencerminkan sikap hati-hati bank sentral dalam merespons dinamika global sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa otoritas moneter masih memilih pendekatan โwait and seeโ, sembari memantau perkembangan eksternal dan domestik secara cermat.

Inflasi Mendekati Batas Atas Target
Dari sisi harga, inflasi tahunan (year-on-year) pada Januari 2026 sebesar 3,55 persen. Angka ini masih berada dalam rentang target inflasi Bank Indonesia untuk 2026, yakni 2,5 persen ยฑ1 persen atau 1,5 persen hingga 3,5 persen. Namun demikian, posisinya tepat berada di ambang batas atas sasaran.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa tekanan harga tetap perlu diantisipasi, meskipun sebelumnya Indonesia sempat mengalami deflasi secara bulanan pada Januari 2026. Bank Indonesia tetap optimistis inflasi akan bergerak menurun dalam beberapa bulan mendatang dan tetap terjaga dalam kisaran yang ditetapkan.
Cadangan Devisa Masih Kuat
Dari sisi eksternal, fundamental ekonomi Indonesia masih terbilang solid. Posisi cadangan devisa per 30 Januari 2026 tercatat sebesar 154,58 miliar dolar A.S. Meskipun sedikit menurun dibandingkan akhir Desember 2025 yang mencapai 156,5 miliar dolar AS, jumlah tersebut masih tergolong aman.
Cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh melampaui standar kecukupan internasional yang umumnya berada di kisaran tiga bulan impor.
Stabilitas Tetap Jadi Prioritas
Secara keseluruhan, kombinasi data tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif terjaga di awal tahun. Rupiah mulai menunjukkan penguatan terbatas, cadangan devisa tetap memadai, dan inflasi masih dalam rentang sasaran meski mendekati batas atas.
Ke depan, konsistensi koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.


Comment