Market Insight
Home / Market Insight / Pasar Global Bergejolak di Tengah Konflik Timur Tengah: Eropa Menguat, Asia Tertekan, Minyak Melonjak

Pasar Global Bergejolak di Tengah Konflik Timur Tengah: Eropa Menguat, Asia Tertekan, Minyak Melonjak

Pasar Eropa Menguat di Tengah Konflik Timur Tengah dan Pelemahan Sentimen Ekonomi

Bursa saham Eropa ditutup menguat meskipun dibayangi meningkatnya ketegangan konflik Timur Tengah yang melibatkan Iran serta memburuknya kondisi ekonomi. Indeks STOXX 600 naik sekitar 0,8 persen, ditopang oleh penguatan sektor energi dan pertambangan.

Kenaikan ini terjadi di tengah data ekonomi yang kurang menggembirakan. Laporan Komisi Eropa menunjukkan bahwa indikator sentimen ekonomi dan kepercayaan konsumen turun signifikan sepanjang bulan Maret akibat dampak eskalasi geopolitik yang berkepanjangan.

Sektor energi dan pertambangan menjadi penopang utama penguatan pasar. Di Inggris, indeks FTSE 100 menguat 1,6 persen, didorong oleh dominasi saham berbasis komoditas yang diuntungkan oleh lonjakan harga minyak.

Pasar Asia Tertekan, KOSPI Pimpin Pelemahan

Pasar Global Menanti NFP AS di Tengah Sinyal Perlambatan Ekonomi

Sementara itu, pasar saham Asia-Pasifik mengalami tekanan tajam seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang kini memasuki minggu kelima. Ketidakpastian global mendorong aksi jual di berbagai bursa kawasan.

Indeks KOSPI Korea Selatan mencatat penurunan terdalam dengan koreksi hampir 3 persen, diikuti indeks Nikkei 225 Jepang yang melemah sekitar 2,8 persen.

Lonjakan harga energi turut meningkatkan tekanan inflasi dan memicu kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Ringkasan pandangan Bank of Japan menunjukkan adanya pembahasan untuk mempercepat pengetatan moneter seiring meningkatnya tekanan harga akibat energi.

Wall Street Cenderung Datar, S&P 500 Mendekati Koreksi

Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 mendekati wilayah koreksi setelah turun 0,39 persen pada perdagangan Senin. Posisi ini menempatkan indeks lebih dari 9 persen di bawah level tertinggi penutupan, terutama akibat tekanan pada sektor teknologi.

Pasar Global Berfluktuasi di Tengah Ketegangan Selat Hormuz dan Gencatan Senjata AS–Iran

Pergerakan saham berjangka relatif stagnan karena pasar menghadapi sentimen yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, risiko geopolitik dan lonjakan harga minyak masih menjadi beban. Namun, di sisi lain, muncul optimisme dari pernyataan Donald Trump terkait kemajuan negosiasi, serta pandangan Jerome Powell yang menilai inflasi masih terkendali sehingga belum diperlukan kenaikan suku bunga.

Harga Minyak Melonjak Tajam, Brent Menuju Rekor Kenaikan

Harga minyak dunia melonjak signifikan dan berpotensi mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam sejarah. Minyak Brent diperkirakan naik sekitar 55 persen sepanjang Maret 2026, melampaui lonjakan pada masa Perang Teluk 1990.

Sementara itu, minyak WTI kembali menembus level 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak 2022. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan global. Pernyataan keras Donald Trump terkait kemungkinan serangan terhadap fasilitas energi Iran semakin memperkuat kekhawatiran pasar.

Imbal Hasil Treasury Turun, Ekspektasi Suku Bunga Melunak

Pasar Global Tertekan di Tengah Ketidakpastian AS–Iran yang Membebani Sentimen

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat mengalami penurunan seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed). Pernyataan Jerome Powell membuat pelaku pasar mengurangi spekulasi pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Penurunan ini terjadi meskipun tekanan geopolitik masih berlangsung, yang sebelumnya dikhawatirkan akan mendorong kenaikan suku bunga akibat lonjakan harga energi.

Emas Menguat, Namun Tertekan Secara Bulanan

Harga emas menguat selama dua sesi berturut-turut, didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

Namun, secara bulanan, emas diperkirakan turun lebih dari 13 persen selama bulan Maret, yang menjadi penurunan terdalam sejak 2008. Tekanan ini dipicu oleh ekspektasi suku bunga tinggi akibat inflasi yang meningkat karena lonjakan harga energi.

Euro Melemah, Yen Menguat di Tengah Ketidakpastian

Di pasar valuta asing, euro melemah terhadap dolar AS akibat kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi Eropa yang berpotensi tertekan oleh konflik berkepanjangan.

Sebaliknya, yen Jepang menguat setelah muncul sinyal kuat dari otoritas Jepang terkait kemungkinan intervensi pasar, serta potensi pengetatan kebijakan moneter.

Outlook Pasar

Pergerakan pasar saat ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik dan kebijakan moneter masih menjadi penggerak utama. Selama ketidakpastian global belum mereda, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka pendek.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

01

Dinamika Pasar Berjangka di Tengah Normalisasi Kebijakan Moneter dan Ketidakpastian Global: Sebuah Tinjauan Akademis

02

Inflasi Menguat, Pertumbuhan Melambat: Emas di Persimpangan Arah?

03

Emas Stabil, Volatilitas Minyak Berlanjut di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

04

Data Tenaga Kerja AS Lebih Lemah dari Perkiraan, Trader Waspadai Dampaknya ke Pasar Emas

05

Kepercayaan Konsumen A.S Menguat, Pasar Masih Menunggu Kepastian Data Lanjutan

Berita Terbaru






Ikhtisar Pasar Global

×
× Advertisement